Gorontalo Utara – pelopormedia.id. HTI Gorontalo Utara adalah potret sempurna dari sebuah kegagalan manajerial yang akut. Perusahaan ini tidak lagi dijalankan dengan profesionalisme, melainkan dengan kegagapan pimpinan yang tak punya nyali dan kelinglungan seorang humas bernama Mansir Mudeng.
Pimpinan perusahaan ini nampak seperti pecundang di markasnya sendiri. Mereka tak punya daya tawar di hadapan vendor, tak punya kendali atas unit-unit pengangkut kayu yang membantai jalanan desa.
Jika mengatur muatan saja tidak becus, jika memberi perintah pada sopir saja tidak didengar, lantas untuk apa jabatan itu dipertahankan? Kepemimpinan yang gagap adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial. Pimpinan yang hanya diam saat rakyat menelan debu adalah pimpinan yang tidak punya harga diri!
Di tengah ancaman terhadap rakyat yang lalu lalang di jalanan dan hancurnya infrastruktur jalan, muncul Mansir Mudeng dengan gaya komunikasi yang menghina nalar.
Mansir sibuk bersilat lidah dan berbalas pantun, seolah-olah rima yang ia susun bisa menambal lubang di jalanan. Ini bukan sekadar kelinglungan, ini adalah ketidakpedulian yang arogan. Rakyat Gorontalo Utara tidak butuh penyair bayaran, mereka butuh solusi nyata! Berhenti berpantun, Mansir! Setiap bait yang kau keluarkan adalah bukti betapa kau tidak memahami esensi penderitaan warga di lapangan.
Menanggapi ketidakbecusan ini, Yowan Sukarna menegaskan dengan nada tegas:
_”Cukup sudah teater ketidaktahuan ini! Pimpinan HTI duduk di kursi empuk bukan untuk diam dan linglung saat jalanan rakyat hancur lebur dan nyawa rakyat terancam akibat muatan overload. Jika Anda tak punya nyali memerintah sopir-sopir overload itu, maka Anda adalah pemimpin gagal yang tak layak dihormati! Dan untuk Mansir Mudeng, berhentilah bersandiwara. Rakyat butuh solusi, bukan pantun! Berbalas pantun di tengah kehancuran adalah penghinaan terhadap nalar publik!”_
Sampai hari ini, apa kejelasan solusinya? SAMA SEKALI TIDAK ADA! HTI terus menikmati kucuran rupiah dari proyek yang berjalan, sementara beban kerusakan dialihkan kepada negara dan warga. Ini adalah praktik bisnis parasit! Kalian meraup untung dari muatan overload, tapi tidak pernah memikirkan keselamatan warga yang menggunakan jalanan umum juga.
Jangan biarkan pimpinan yang gagap terus berkuasa. Jangan biarkan humas yang linglung terus membual dengan pantun-pantun sampahnya. Kritik dari Yowan Sukarna adalah mandat rakyat. Jika manajemen HTI tidak mampu berbenah sekarang juga, maka mereka tidak punya pilihan lain kecuali *GANTI PIMPINAN HTI* sekarang juga.
Kedaulatan rakyat bukan untuk ditukar dengan pantun!
Pimpinan yang tak berdaya harus segera ditumbangkan!
Oleh: Yowan Sukarna
Ketua KNPI Gorontalo Utara








