DARURAT SARJANA DI GORONTALO – RIBUAN LULUS, LAPANGAN KERJA BUNTU

Berita29 Dilihat

 

 

Oleh: Indra Rohandi Parinding – Pemerhati Pemuda & IPR Gorontalo

 

GORONTALO, Pelopormedia.id – Setiap tahun kita bangga melihat ribuan mahasiswa diwisuda di Gorontalo. Foto-foto wisuda memenuhi media sosial. Tapi setelah toga dilepas, pertanyaan pahitnya satu: mau kerja di mana?

 

Ini yang saya sebut Darurat Lapangan Pekerjaan bagi Sarjana di Gorontalo.

 

Kita sedang memproduksi ribuan sarjana, tapi tidak sedang memproduksi ribuan lapangan kerja. Akibatnya, yang terjadi adalah pengangguran terdidik. Sarjana S1, S2, yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi daerah, justru terjebak dalam antrean panjang pencari kerja, menunggu CPNS yang kuotanya hanya puluhan, atau merantau ke luar daerah.

 

Kenapa ini bisa terjadi?

 

Pertama, kampus dan pasar kerja tidak nyambung. Banyak jurusan meluluskan ratusan orang untuk satu jenis pekerjaan yang hanya butuh 5 orang.

 

Kedua, Gorontalo minim industri penyerap.Ekonomi kita masih bertumpu pada sektor informal. Tidak ada kawasan industri besar yang mampu menyerap ribuan sarjana teknik, pertanian, ekonomi, dan hukum sekaligus.

 

Ketiga, mentalitas kita masih pencari kerja, bukan pencipta kerja. Kita mendidik sarjana untuk jadi pegawai, bukan jadi pengusaha yang membuka lapangan kerja.

 

Jika dibiarkan, ini akan menjadi bom waktu sosial. Orang tua sudah habis biaya puluhan juta kuliahkan anak, tapi anak kembali menganggur di rumah.

 

Lalu apa solusinya? Tidak cukup hanya dengan seminar motivasi.

 

1. Pemerintah harus legalkan dan modernkan potensi lokal.

Contoh paling nyata: Sektor Pertambangan Rakyat. Jika Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di Gorontalo Utara, Bone Bolango, Pohuwato dikelola secara legal, aman, dan profesional sesuai kaidah K3 dan lingkungan, ini bisa menyerap ratusan sarjana. Butuh sarjana lingkungan untuk reklamasi, sarjana K3, sarjana hukum, sarjana teknik tambang. Jangan biarkan tambang ilegal merajalela yang tidak memberi manfaat pajak dan tidak menyerap sarjana.

 

2. Ubah orientasi pendidikan.

Perguruan tinggi di Gorontalo harus berani kurangi jurusan yang sudah jenuh dan buka program vokasi berbasis kebutuhan: pengolahan jagung, perikanan, tambang legal, dan ekonomi digital.

 

3. Modal usaha untuk sarjana, bukan hanya untuk pengusaha besar.

Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus buat program kredit usaha khusus wisudawan tanpa agunan berat, dengan pendampingan.

 

Saya sampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini peringatan. Gorontalo punya bonus demografi, punya ribuan otak cerdas. Jangan sampai kecerdasan itu terbuang hanya karena negara tidak hadir membuka lapangan kerja.

 

Sudah saatnya sarjana Gorontalo tidak lagi bertanya “ada lowongan di mana?” tapi “saya bisa buka usaha apa untuk Gorontalo?”

 

Tapi untuk bisa begitu, pemerintah harus lebih dulu membuka karpetnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *