Hendra Nurdin Tegaskan 8 Desember Hari Lahir Gorut, NasDem Dorong Revisi Resmi

Berita, Daerah359 Dilihat

Gorontalo — pelopormedia.id. Anggota DPRD Gorontalo Utara dari Fraksi Partai NasDem, Hendra Nurdin, menegaskan bahwa hari lahir Kabupaten Gorontalo Utara secara historis adalah 8 Desember 2006, bukan 26 April yang selama ini diperingati.

Menurutnya, pemahaman yang berkembang di masyarakat perlu diluruskan agar tidak terjadi kekeliruan sejarah yang berkelanjutan.

“Yang melatarbelakangi ini adalah fakta sejarah. Secara historis, Gorontalo Utara lahir pada 8 Desember 2006. Itu yang harus kita luruskan,” ujar Hendra, Pada Minggu (26/4/2026).

Ia menjelaskan, tanggal 26 April sejatinya merupakan momentum pelantikan Penjabat Bupati sekaligus peresmian daerah, bukan hari kelahiran secara substansi.

“Kurang tepat jika disebut hari lahir. 26 April itu pelantikan dan peresmian, bukan kelahiran daerah,” tegasnya.

Hendra menilai perbedaan persepsi ini terjadi karena keterbatasan informasi sejarah yang diketahui publik. Ia mengaku sebagai salah satu pihak yang terlibat langsung dalam proses pembentukan daerah, sehingga memahami kronologi yang sebenarnya.

“Saya salah satu orang yang terlibat aktif dan mengetahui fakta sejarah,” tambahnya.

Untuk mempermudah pemahaman, Hendra mengibaratkan dengan proses kelahiran manusia.
“Anak lahir hari ini, akta kelahirannya dibuat besok. Yang diperingati tentu hari lahirnya, bukan hari pembuatan akta,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kesalahan dalam memahami sejarah akan berdampak panjang, bahkan diwariskan ke generasi berikutnya.

“Ini yang akan diwariskan ke anak cucu kita. Kalau keliru, maka yang diwariskan juga kekeliruan,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, Fraksi Partai NasDem DPRD Gorontalo Utara menyatakan akan mendorong revisi penetapan hari jadi daerah secara resmi.

“Kami dari Fraksi NasDem akan mendorong revisi. Ke depan, perlu ada kajian bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. Jika memang perlu, dilakukan penyesuaian secara resmi melalui mekanisme yang berlaku,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan tidak ada lagi perbedaan persepsi terkait sejarah daerah, sehingga dapat menjadi landasan bersama dalam pembangunan.

“Harapan saya sederhana, kita punya kesamaan persepsi tentang sejarah daerah dan menjadikannya sebagai dasar untuk membangun Gorontalo Utara yang lebih baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *