G210 Plus: Hilang atau Dihilangkan? Program Andalan Bupati Thariq Modanggu Kini Diselimuti Tanda Tanya

 

Gorontalo Utara — Pelopormedia.id — Program G210 Plus yang sempat dielu-elukan sebagai ikon pemberdayaan ekonomi desa di Gorontalo Utara, kini justru berada di persimpangan pertanyaan publik: hilang karena kegagalan, atau dihilangkan karena kelalaian?

Program Gerakan 2 Ekor Kambing dan 10 Ekor Ayam (G210 Plus) merupakan gagasan unggulan Bupati Thariq Modanggu yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong swasembada daging, serta meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa berbasis peternakan.

Di awal peluncurannya, program ini berjalan masif dan mendapat dukungan luas. Tidak hanya dari pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan investor lokal, anggota DPRD provinsi dan kabupaten, hingga aparatur sipil negara (ASN) di Gorontalo Utara. Gaungnya bahkan disebut-sebut meluas hingga ke tingkat nasional.

Sebagai etalase keberhasilan, dibangunlah Mini Ranch Peternakan Terpadu di Kecamatan Tomilito. Lokasi ini menjadi titik percontohan, tempat di mana bantuan berupa ayam dan kambing dari berbagai pihak dihimpun dan dipelihara secara kolektif.

Data yang dihimpun menunjukkan sekitar 50 ekor ayam dan 30 ekor kambing ditempatkan di kandang percontohan tersebut, yang pengelolaannya dipercayakan kepada BUMDes Bersama Kecamatan Tomilito.

Namun fakta di lapangan berkata lain.

Hasil investigasi awak media menemukan Mini Ranch tersebut dalam kondisi kosong. Tidak tampak aktivitas peternakan sebagaimana mestinya, memunculkan tanda tanya besar terkait keberadaan ternak yang sebelumnya dipelihara di lokasi itu.

Situasi ini memicu dugaan serius.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi, muncul indikasi bahwa ternak tersebut diduga telah diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi—meski hingga kini belum ada klarifikasi resmi yang membantah atau mengonfirmasi dugaan tersebut secara menyeluruh.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gorontalo Utara, Rusli G. Akase, menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan Mini Ranch sepenuhnya berada di tangan BUMDesma Kecamatan Tomilito, yang diketuai Amir Ismail, dengan Camat sebagai dewan pembina.

Ia juga menekankan bahwa peran dinas terbatas pada aspek kesehatan hewan.

“Manajemen pengelolaan awalnya dikita OPD Teknis, namun karena berlawanan dengan regulasi maka pengelolaan ini di serahkan ke BUMDesma. Jadi itu tanggung jawab mereka,” jelas Rusli saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Terkait kondisi ternak, Rusli mengaku pihaknya hanya menerima laporan dari pengelola bahwa kematian ayam disebabkan oleh serangan penyakit.

“Untuk Ayam menurut laporan meraka di serang penyakit, sehingga banyak yang mati, untuk kambing memang ada yang mati dan kita keswan sudah melakukan operasi terhadap kambing apa yang menjadi penyebab mati itu pun yang mati anakan kambing,” pungkasnya.

Di sisi lain, Direktur BUMDesma Tomilito, Amir Ismail, membenarkan bahwa jumlah ternak mengalami penyusutan drastis. Ia menyebut kandang tampak kosong karena sebagian besar ayam mati dan kambing tidak lagi seluruhnya berada dalam kandang.

“Jumlah Ayam saat ini sisa 5 ekor, 45 diserang penyakit jadi mati masal dari jumlah 50, sementara Kambing sebelumnya 38 ekor sisanya 15 ekor,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media.

Ia menambahkan bahwa kambing yang tersisa dilepas di sekitar area kandang.

“Sementara Kambing di lepas disekitaran kandang.”

Amir juga menegaskan bahwa seluruh perkembangan tersebut telah dilaporkan kepada pihak terkait.

“Semua itu kami tuangkan dalam laporan, dan itu sudah kita serahkan ke Dinas Peternakan dan Bupati,” pungkasnya.

Dengan kondisi ini, publik kini menanti kejelasan: apakah yang terjadi murni akibat faktor teknis seperti penyakit dan manajemen, atau ada persoalan lain dalam tata kelola program?

G210 Plus yang dulu menjadi kebanggaan daerah, kini diuji transparansi dan akuntabilitasnya di hadapan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *