Pemuda Asal Tomilito Tampil Bersama Ulama, Tegaskan Penolakan Terhadap Penyimpangan Fitrah di Serambi Madinah

Daerah, Gorontalo153 Dilihat

Gorontalo, Pelopormedia.id Arus modernisasi yang membawa pergeseran nilai moral mendapat perhatian serius dari kalangan pemuda dan pemuka agama di Provinsi Gorontalo, Jumat (26/62026)

 

Sandy Syafrudin Nina, tokoh muda asal Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, secara terbuka menyatakan sikap di garis depan bersama para ulama untuk mengawal eksistensi falsafah Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah.

 

Sandy yang kerap kali menaikkan isu, mengedukasi masyarakat lewat tulisan-tulisannya di medsos berpandangan langkah ini diambil sebagai respons konkret atas maraknya fenomena sosial yang dinilai mengancam tatanan fitrah generasi muda di wilayah yang dijuluki Serambi Madinah tersebut.

 

Dalam pandangan teologi Keislaman, fenomena seperti LGBTQ tidak diakui sebagai sebuah identitas sosiologis maupun komunitas legal, melainkan dikategorikan sebagai penyimpangan fitrah penciptaan manusia.

 

Menurut Sandy, pergeseran perilaku—terutama fenomena pria yang mengadopsi identitas visual dan ekspresi menyerupai wanita—secara fundamental bertentangan dengan norma agama, hukum adat, serta nilai-nilai luhur yang melekat pada kebudayaan bumi Hulondhalo

 

“Menjaga moralitas daerah bukan sekadar perkara mempertahankan tradisi lama, melainkan sebuah kewajiban teologis dan kultural untuk menyelamatkan masa depan generasi yang akan datang,” ujar Sandy dalam keterangannya.

 

Narasi Penyadaran di Tengah Kekosongan Regulasi Formal

 

Aksi nyata yang dilakukan oleh tokoh agama dan tokoh muda asal Gorontalo Utara, Bung Sandy Syafrudin Nina ini memicu perhatian luas di kalangan masyarakat, dan para tokoh agama.

 

Di saat instrumen eksekutif dan legislatif di beberapa kabupaten belum menunjukkan pergerakan serius yang masif atau melahirkan regulasi formal yang ketat, inisiatif dari sektor pemuda ini dinilai berhasil mengisi kekosongan kompas moral di daerah Gorontalo.

 

Banyak masyarakat setempat yang merespon langkah Sandy sebagai representasi dari gerakan akar rumput untuk menjaga nilai-nilai leluhur di Bumi Serambi Madinah.

 

“Sejauh ini, baru pemimpin Kota Gorontalo, pemimpin Kabupaten Gorontalo, dan pemimpin Kabupaten Boalemo, yang menunjukkan keseriusan dalam upaya mencegah paham LGBTQ yang bertentangan dengan falsafah Gorontalo.” Kata Sandy.

 

Sandy berharap langkah-langkah penyadaran yang dilakukan baik dari sisi media sosial, diskusi langsung yang dilakukan bersama para tokoh agama bisa masif dilakukan di seluruh sektor Provinsi Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *