Inovasi Digital dari Gorontalo, Dosen FEBI IAIN Sultan Amai Perkenalkan Manjonongki

Daerah, Gorontalo125 Dilihat

Gorontalo, Pelopormedia.id – Inovasi digital kembali lahir dari Provinsi Gorontalo. Seorang akademisi yang juga merupakan pelaku usaha kuliner, Fandli Supandi, M.Kom, resmi meluncurkan Manjonongki, sebuah aplikasi kasir dan manajemen kafe-restoran yang dikembangkan dari hasil riset akademik sekaligus pengalaman nyata mengelola bisnis selama bertahun-tahun, (1/7/2026)

Fandli merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Sultan Amai Gorontalo. Di sisi lain, ia juga telah mengelola Konsep Syndrome Coffee n Eatery selama enam tahun. Perpaduan pengalaman sebagai akademisi dan pengusaha tersebut menjadi fondasi utama lahirnya Manjonongki, sebuah aplikasi yang dirancang untuk menjawab berbagai persoalan operasional yang kerap dihadapi pelaku usaha kuliner.

 

Menurut Fandli, selama mengelola usahanya ia menemukan berbagai kendala yang hampir selalu dialami pemilik kafe dan restoran, mulai dari antrean pesanan saat jam sibuk, selisih kas di akhir pergantian shift, pengelolaan stok bahan baku yang kurang efektif, hingga pencatatan laporan keuangan yang memakan banyak waktu.

“Sebagai dosen saya terbiasa menganalisis persoalan secara sistematis, sementara sebagai pemilik usaha saya mengalami langsung berbagai tantangan tersebut setiap hari. Dari perpaduan itulah Manjonongki lahir, bukan hanya berdasarkan teori, tetapi benar-benar dibangun dari kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

 

Manjonongki menghadirkan berbagai fitur yang mendukung pengelolaan bisnis kuliner secara menyeluruh. Sistem ini mampu mengintegrasikan pencatatan pesanan, Kitchen Display System (KDS), pengelolaan stok otomatis, laporan penjualan, analisis laba, pencatatan pajak, monitoring kas, hingga penggajian karyawan dengan slip gaji digital dalam satu platform.

Seluruh proses berlangsung secara otomatis sehingga pemilik usaha tidak lagi harus melakukan perhitungan manual. Data transaksi dapat dipantau secara real time melalui perangkat yang terhubung, termasuk dari telepon genggam.

 

Fandli menegaskan bahwa aplikasi tersebut telah digunakan secara langsung di Konsep Syndrome Coffee n Eatery sebelum dipasarkan kepada masyarakat. Dengan demikian, setiap fitur yang tersedia telah melewati proses evaluasi dan penyempurnaan berdasarkan kebutuhan operasional sehari-hari.

“Karena saya sendiri yang menggunakannya, saya ingin memastikan aplikasi ini mudah dipahami oleh kasir, pelayan maupun bagian dapur, bukan hanya oleh orang yang memiliki latar belakang teknologi informasi,” katanya.

 

Peluncuran Manjonongki juga menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tidak hanya lahir di kota-kota besar, tetapi dapat berkembang dari daerah melalui kolaborasi antara dunia akademik dan dunia usaha. Sebagai produk asli Gorontalo, aplikasi ini diharapkan mampu membantu digitalisasi pengelolaan kafe, warung kopi, restoran, dan usaha kuliner lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan hadirnya Manjonongki, Fandli berharap semakin banyak pelaku UMKM kuliner yang mampu meningkatkan efisiensi usaha, memperbaiki tata kelola keuangan, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang akurat.

“Harapan saya sederhana, semoga usaha-usaha kuliner di Gorontalo maupun di seluruh Indonesia dapat berkembang lebih baik melalui pengelolaan yang modern, efektif, dan berbasis teknologi,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *