BOALEMO, Pelopormedia.id – Aktivis muda Wonosari, Rivandi Abdullah, mendesak Kapolri melalui Kapolda Gorontalo untuk segera mengevaluasi dan memberhentikan Kapolsek Wonosari dari jabatannya. Desakan itu muncul karena dinilai tidak adanya perkembangan signifikan dalam penanganan kasus hilangnya Eca yang dilaporkan sejak 19 Juni 2026.
Menurut Rivandi, hingga lebih dari satu bulan berlalu, masyarakat belum melihat hasil nyata dari proses penyelidikan. Sebaliknya, yang lebih menonjol justru berbagai klarifikasi kepada publik bahwa Polsek Wonosari telah bekerja, tanpa disertai perkembangan substansial mengenai keberadaan korban,(24/7/2026)
“Kasus hilangnya Eca adalah persoalan kemanusiaan yang seharusnya menjadi prioritas utama. Namun, pada saat masyarakat menunggu langkah cepat kepolisian, Kapolsek justru terlihat lebih fokus menyelenggarakan kegiatan Turnamen Boxing Muay Thai yang berlangsung pada 9–15 Juli 2026,” tegas Rivandi.
Ia menilai kondisi tersebut menciptakan kesan bahwa penanganan kasus tidak memperoleh perhatian yang maksimal. Dalam perkara orang hilang, kata dia, kecepatan bertindak sangat menentukan peluang ditemukannya korban maupun pengungkapan fakta.
“Selama lebih dari sebulan masyarakat hanya disuguhi pernyataan bahwa polisi bekerja. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar klarifikasi, tetapi hasil kerja yang nyata,” ujarnya.
Rivandi menegaskan bahwa desakan evaluasi terhadap Kapolsek bukan dimaksudkan untuk melemahkan institusi Polri, melainkan sebagai bentuk kritik agar kepolisian lebih profesional, responsif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Oleh karena itu kami meminta Kapolda Gorontalo segera mengevaluasi kinerja Kapolsek Wonosari. Apabila memang terbukti tidak mampu mengendalikan penanganan kasus yang menjadi perhatian publik ini, maka sudah sepatutnya dilakukan pergantian jabatan demi memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” pungkasnya.








