Viral Chat Diduga Oknum Kurir SPX Tolangohula, Jika Terbukti Melanggar: Pecat Tanpa Kompromi!

Daerah, Gorontalo15 Dilihat

 

 

GORONTALO,Pelopormedia.id — Polemik pelayanan jasa pengiriman SPX di Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo, kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya muncul keluhan konsumen terkait dugaan perlakuan tidak pantas dari seorang oknum kurir, kini beredar tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan oknum yang sama,(10/8/2026)

 

Tangkapan layar tersebut menjadi perhatian karena sejumlah isi percakapan dinilai menunjukkan respons yang kurang profesional terhadap konsumen yang menyampaikan keluhan.

Dalam percakapan yang beredar, seorang konsumen menyampaikan bahwa persoalan yang dialaminya telah diketahui oleh sejumlah orang dan diduga bukan dirinya saja yang pernah mengalami persoalan serupa.

 

“Iyo b setidaknya ngana pe kalakuan ternyata banyak orang tau dengan banyak korban,” ujar konsumen dalam percakapan tersebut.

Pesan itu kemudian mendapat balasan yang diduga berasal dari YU, yang disebut sebagai kurir SPX Tolangohula. Balasan tersebut dinilai oleh pihak konsumen sebagai respons yang terkesan menantang balik.

 

“Wkwkw, iyo sama dengan ngana p kalakuan olo dia jadi tida bekeng ilang kita p rejeki orang bodoh macam ngoni ini,” demikian isi balasan dalam percakapan yang beredar.

 

Percakapan lain juga kembali menjadi perhatian ketika persoalan tersebut mulai ramai diperbincangkan.

 

“Anjayy viral,” ujar akun yang disebut sebagai YU dalam percakapan tersebut.

 

Pesan itu kemudian disusul dengan kalimat, “Tda bkeng ilang kerja bos.”

Beredarnya percakapan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai etika komunikasi dan profesionalitas petugas dalam menghadapi konsumen yang menyampaikan keluhan.

 

Persoalan ini dinilai tidak lagi sebatas masalah pengiriman paket. Cara petugas berkomunikasi dengan konsumen juga menjadi bagian penting dalam membangun serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan jasa pengiriman.

 

Konsumen pada dasarnya memiliki ruang untuk menyampaikan keluhan apabila merasa mendapatkan pelayanan yang tidak sesuai. Di sisi lain, petugas maupun perusahaan memiliki tanggung jawab untuk merespons setiap keluhan secara profesional dan mencari penyelesaian yang tepat.

Atas persoalan tersebut, pihak yang mempersoalkan kasus ini meminta manajemen SPX melakukan pemeriksaan internal secara menyeluruh.

 

Pemuda Tolangohula, Fengki Kau, menegaskan bahwa apabila dalam pemeriksaan internal terbukti terdapat pelanggaran terhadap standar pelayanan maupun etika kerja, manajemen diminta memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan perusahaan.

Bahkan, apabila pelanggaran tersebut dinilai serius dan terbukti dilakukan oleh oknum yang bersangkutan, Fengki meminta manajemen tidak ragu memberikan sanksi hingga pemecatan.

 

“Kami meminta SPX jangan melindungi oknum. Kalau memang terbukti melakukan penghinaan dan tidak profesional terhadap konsumen, kami minta dipecat. Jangan sampai konsumen yang menyampaikan keluhan justru diperlakukan seperti itu,” tutur Fengki.

 

Selain persoalan percakapan, pihak yang mempersoalkan kasus ini juga mempertanyakan sejauh mana fungsi pengawasan dan pembinaan manajemen terhadap para petugas di lapangan.

Bagaimana standar pelayanan kepada konsumen diterapkan? Sejauh mana pembinaan terhadap kurir dilakukan? Dan bagaimana perusahaan memastikan setiap keluhan konsumen ditangani secara profesional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai penting untuk dijawab manajemen SPX agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Terlebih, apabila benar terdapat lebih dari satu konsumen yang mengaku mengalami persoalan serupa, evaluasi dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Penyelesaian tidak cukup hanya dilakukan secara personal antara konsumen dan petugas, tetapi juga perlu menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pelayanan perusahaan.

 

Fengki menegaskan, tuntutan tersebut bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan perusahaan. Sebaliknya, pihaknya meminta adanya perbaikan kualitas pelayanan serta tindakan tegas terhadap oknum apabila dugaan pelanggaran nantinya terbukti.

Hingga persoalan ini mencuat, publik masih menunggu sikap resmi dari manajemen SPX terkait beredarnya tangkapan layar percakapan tersebut.

 

Manajemen diharapkan dapat melakukan klarifikasi dan investigasi untuk memastikan keaslian percakapan sekaligus memeriksa apakah terdapat pelanggaran terhadap standar operasional maupun kode etik perusahaan.

Sebab, keluhan konsumen semestinya menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan, bukan justru berkembang menjadi persoalan baru akibat komunikasi yang dinilai emosional dan tidak profesional.

Manajemen SPX Tolangohula kini dituntut menunjukkan komitmennya terhadap standar pelayanan, etika kerja, dan perlindungan konsumen.

Kepercayaan masyarakat terhadap sebuah layanan tidak hanya ditentukan oleh cepat atau lambatnya paket sampai, tetapi juga oleh bagaimana perusahaan dan para petugasnya memperlakukan konsumen ketika terjadi persoalan. “Ujar fengki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *