Mengerikan! Ini Kronologi Awal Terkuaknya Pelecehan Anak Di SDN 11 Tolangohula

Berita1141 Dilihat

GORONTALO – pelopormedia.id. Seorang guru di SDN 11 Tolangohula berinisial R mengungkapkan kronologi awal terkuaknya dugaan pelecehan seksual terhadap seorang anak yang belakangan menjadi perhatian masyarakat.

Berdasarkan klarifikasi R, kecurigaan pihak guru bermula ketika korban disebut kerap datang ke sekolah dengan kondisi wajah pucat dan sering tertidur di dalam kelas. Kondisi tersebut kemudian mendorong pihak guru melakukan pendekatan dan pemeriksaan awal untuk mengetahui keadaan yang dialami korban.

R menjelaskan, pada pemeriksaan pertama, korban belum bersedia memberikan keterangan secara lisan. Namun, setelah dilakukan pendekatan dan diajak berbicara kembali, korban mulai memberikan respons terhadap pertanyaan yang diajukan.

“Sebelumnya korban sudah kami periksa sebagai guru karena sering datang ke sekolah dengan wajah pucat dan selalu tertidur di ruang kelas. Saat pemeriksaan awal, ia belum mau berbicara,” ujar R.

Dalam perkembangannya, R mengaku memperoleh informasi dari masyarakat mengenai kebiasaan korban yang disebut sering tidur bersama ayah kandungnya. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu hal yang ditanyakan saat guru kembali melakukan pendekatan kepada korban.

Menurut R, ketika ditanya mengenai kebiasaan tidur bersama ayahnya, korban awalnya belum memberikan jawaban secara lisan dan hanya menganggukkan kepala.

R menuturkan, setelah percakapan berlanjut, korban kemudian menyampaikan keterangan mengenai dugaan tindakan pelecehan seksual yang disebut dilakukan oleh ayah kandungnya. R juga mengaku korban sempat memperagakan tindakan yang diduga dialaminya.

Merasa persoalan tersebut berada di luar kewenangan pihak sekolah, R mengatakan bahwa informasi yang diperoleh selanjutnya disampaikan kepada orang tua korban dan pemerintah desa agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang.

“Karena kami sebagai guru tidak memiliki kewenangan untuk menangani kasus ini, saya melaporkannya kepada orang tua korban dan pemerintah desa,” kata R.

R menambahkan, pihak guru kembali melakukan pendekatan karena masih mengkhawatirkan kondisi korban, terutama setelah melihat anak tersebut berulang kali datang ke sekolah dengan wajah pucat dan tertidur di dalam kelas.

Dalam pemeriksaan lanjutan itu, R juga mengungkapkan adanya keterangan lain dari korban terkait dugaan tindakan pelecehan seksual yang disebut melibatkan seorang pria lanjut usia yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Menurut R, dalam keterangan tersebut turut disebutkan dugaan pemberian uang kepada korban.

Meski demikian, seluruh keterangan tersebut masih perlu didalami dan diverifikasi oleh aparat penegak hukum. Identitas serta keterlibatan pihak-pihak yang disebutkan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan keterangan narasumber.

Penanganan perkara ini perlu dilakukan secara profesional oleh pihak berwenang dengan mengutamakan perlindungan, keselamatan, dan pemulihan kondisi psikologis korban. Identitas anak juga harus dirahasiakan demi mencegah dampak lanjutan terhadap korban.

Berita Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *