Warga Teratai yang Tolak PETI Merasa Disudutkan, Soroti Dugaan Kriminalisasi Dan Pelanggaran Etik

Berita, Daerah213 Dilihat

Pohuwato, Gorontalo – pelopormedia.id. Polemik aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Teratai–Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, terus memicu ketegangan di tengah masyarakat. Sejumlah warga yang aktif menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tambang ilegal mengaku mulai mendapat tekanan dan merasa disudutkan melalui pemberitaan yang dinilai tidak berimbang.

Salah satu warga Desa Teratai, Alim Moputi atau yang dikenal dengan sapaan Om Botak, mengaku kecewa setelah namanya disebut sebagai provokator dalam sebuah pemberitaan. Ia menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan justru mencederai perjuangan masyarakat yang selama ini meminta penertiban PETI karena dianggap merusak lingkungan.

“Kami hanya meminta keadilan dan keselamatan lingkungan. Desa kami terdampak banjir serta lumpur akibat aktivitas PETI. Tapi saat masyarakat bersuara, malah dianggap provokator,” kata Om Botak, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan keresahan atas kondisi lingkungan yang diduga semakin memburuk akibat aktivitas pertambangan ilegal di wilayah tersebut.

Om Botak juga menyoroti proses pemberitaan yang menyeret namanya tanpa adanya klarifikasi ataupun hak jawab. Ia menilai hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip jurnalistik dan berpotensi merugikan nama baiknya.

Ia bahkan mengaku foto pribadinya yang digunakan dalam pemberitaan sebelumnya diberikan untuk dokumentasi apresiasi terhadap langkah aparat dalam melakukan penertiban PETI. Namun, foto itu kemudian dipakai dalam narasi yang dinilai menggiring opini negatif terhadap dirinya.

Keberatan serupa disampaikan Ismet Hamsah alias Podu Yoyon. Ia mengaku namanya dicatut dalam pemberitaan dengan sebutan munafik dan penghianat tanpa konfirmasi langsung dari pihak media.

“Saya merasa dirugikan karena tidak pernah dimintai keterangan. Tiba-tiba muncul tudingan yang mencemarkan nama baik saya,” ujarnya.

Kondisi tersebut memicu reaksi warga Desa Teratai. Masyarakat meminta agar kebebasan pers tetap dijalankan secara profesional dan tidak dijadikan alat untuk menyerang warga yang sedang memperjuangkan hak lingkungan hidup mereka.

Warga juga mengaku akan mengumpulkan bukti serta menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat dalam pemberitaan tersebut. Jika ditemukan adanya keterkaitan dengan aktivitas PETI, masyarakat menyatakan siap membawa persoalan itu ke aparat penegak hukum maupun lembaga terkait.

Polemik PETI di Pohuwato hingga kini masih menjadi perhatian publik. Aktivitas tambang ilegal di sejumlah wilayah disebut-sebut telah memicu kerusakan lingkungan, sedimentasi lumpur, hingga banjir yang berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar.

Berita Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *