Gorontalo – Pelopormedia.id, Pemuda Desa Polohungo, Kecamatan Tolangohula, Ais Konoli, menyatakan penolakannya terhadap pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan yang rencananya digelar di Kabupaten Gorontalo. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan berskala nasional tersebut belum sejalan dengan kondisi yang dihadapi para petani di lapangan yang hingga kini masih bergelut dengan berbagai persoalan mendasar, terutama infrastruktur pertanian, Kamis (4/6/2026).
Ais menilai pemerintah daerah lebih fokus melakukan perbaikan jalan di kawasan pusat kabupaten yang menjadi lokasi dan jalur pendukung pelaksanaan PENAS, sementara berbagai kebutuhan mendesak masyarakat petani di wilayah pedesaan, khususnya di Kecamatan Tolangohula, belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Ia menyoroti kondisi jalan di sejumlah desa di Kecamatan Tolangohula yang mengalami kerusakan parah dan belum kunjung diperbaiki. Menurutnya, pemerintah seharusnya tidak hanya memprioritaskan perbaikan jalan yang akan dilalui tamu dan peserta PENAS, tetapi juga memperhatikan akses jalan di desa-desa sentra pertanian yang menjadi penopang perekonomian masyarakat.
“Jalan yang digunakan petani untuk mengangkut hasil pertanian juga harus menjadi prioritas. Jangan sampai jalan di pusat kabupaten yang masih layak justru kembali diaspal, sementara jalan di desa-desa penghasil pertanian masih rusak berat,” ujarnya.
Selain kondisi jalan, Ais juga menyoroti kerusakan jembatan di Desa Polohungo yang hingga kini belum mendapat penanganan dari pemerintah daerah. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses utama masyarakat dalam mengangkut hasil pertanian menuju pasar dan pusat distribusi.
Mayoritas warga Desa Polohungo berprofesi sebagai petani dan telah lama mengeluhkan kerusakan jembatan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada realisasi perbaikan, meskipun keberadaan jembatan itu sangat vital bagi aktivitas ekonomi masyarakat.
Para petani juga menghadapi kendala ketika sungai meluap akibat hujan deras. Jalur yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil panen menjadi tidak dapat dilalui sehingga distribusi hasil pertanian terhambat. Masyarakat terpaksa menunggu hingga debit air surut sebelum kembali beraktivitas.
Bahkan setelah banjir reda, warga sering kali harus bergotong royong menggunakan biaya swadaya untuk memperbaiki bagian tepi sungai yang rusak akibat terjangan arus agar kendaraan pengangkut hasil pertanian dapat kembali melintas.
Ais berharap Pemerintah Kabupaten Gorontalo dapat lebih memprioritaskan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Menurutnya, persoalan jalan dan jembatan yang menjadi urat nadi aktivitas petani harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum menggelar kegiatan besar seperti PENAS Petani Nelayan.
“Petani tidak hanya membutuhkan seremoni dan kegiatan besar. Yang paling dibutuhkan saat ini adalah akses jalan dan jembatan yang layak agar hasil pertanian dapat diangkut dengan lancar dan perekonomian masyarakat bisa terus berjalan,” tegasnya.







