Gorontalo Utara – Pelopormedia.id, Pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD Zainal Umar Sidiki seharusnya menjadi contoh bagaimana pelayanan kesehatan publik dijalankan secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Sistem manajemen yang ada saat ini patut dipertanyakan karena dinilai belum mampu menjawab kebutuhan dasar pelayanan kesehatan secara optimal.
Salah satu persoalan yang paling mendasar adalah kesejahteraan pegawai. Gaji pegawai tidak tetap (PTT) yang belum dibayarkan tepat waktu, bahkan sering mengalami keterlambatan, termasuk bagi petugas security, merupakan cerminan lemahnya pengelolaan anggaran BLUD. Padahal, tenaga kerja adalah ujung tombak pelayanan. Jika kesejahteraan mereka diabaikan, maka kualitas pelayanan kepada masyarakat juga akan ikut terdampak.
Selain itu, kondisi sarana dan prasarana rumah sakit juga menunjukkan kurangnya perhatian serius. Ruang apotek dan depo obat yang belum tertata dengan baik, suhu ruangan yang diduga tidak stabil, hingga plafon Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sobek-sobek tanpa perawatan adalah gambaran nyata dari lemahnya manajemen fasilitas. Belum lagi penempatan tabung oksigen di depan IGD yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), yang seharusnya menjadi perhatian utama dalam aspek keselamatan pasien.
Lebih memprihatinkan lagi adalah dugaan masih terjadinya praktik “copy resep” dalam pelayanan obat-obatan. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan farmasi belum berjalan sebagaimana mestinya. Fasilitas kesehatan seharusnya mampu menjamin ketersediaan obat, bukan justru membebani pasien dengan kondisi yang tidak ideal. Terlebih dalam konteks pelayanan gratis melalui BPJS, yang menuntut pelayanan maksimal tanpa hambatan.
Perlu juga dipertanyakan apakah ruangan gas medik berfungsi dengan baik atau tidak. Karena sistem ini merupakan bagian vital dalam pelayanan medis, khususnya dalam kondisi darurat. Jika hal-hal mendasar seperti ini saja tidak mendapatkan perhatian serius, maka bagaimana mungkin pelayanan kesehatan bisa berjalan optimal.
Saya menilai bahwa kinerja direktur BLUD RSUD ZUS memang terlihat agresif atau “ugal-ugalan” dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya. Namun, langkah tersebut harus ditempatkan pada koridor yang tepat. Pengelolaan rumah sakit tidak bisa hanya berorientasi pada tampilan atau simbol semata, melainkan harus menyentuh aspek substansi, yaitu pelayanan dan kesejahteraan.
Saya berharap ke depan ada pembenahan yang nyata dan menyeluruh. Kesejahteraan pegawai harus dipenuhi tanpa keterlambatan, ketersediaan obat harus dijamin untuk menghindari praktik copy resep, serta sarana dan prasarana harus segera diperbaiki demi kenyamanan dan keselamatan pasien. Dengan demikian, target pelayanan dan pencapaian pendapatan rumah sakit benar-benar bisa maksimal.
Kami tetap mendukung kinerja direktur, namun dengan catatan bahwa setiap kebijakan harus tepat sasaran. Karena pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah soal kemanusiaan.
“Sampah saja harus dibuang pada tempatnya, karena terkadang sangat sulit meyakinkan pada lalat bahwa bunga lebih harum dibandingkan sampah.”
Oleh: Indra Rohandi Parinding, S.Farm – Aktivis Kesehatan













